Dienstag, 25. März 2008

The Killing Fields

Utk melihat lebih jelas bisa klik fotonya


Hari Minggu kemarin cuaca cukup bagus setelah selama lebih dari tujuh hari ini kita hanya mendapatkan tetesan air hujan, taburan salju serta angin yg cukup dingin. Suhu diluar kemarin berkisar antara 3-4 °c plus angin sepoi². Saya mengajak uwe utk sekedar menghirup udara segar. Kita mengarah menuju Venne Moor tetapi dgn rute yg berbeda dari yg terdahulu. Saya pernah wandern (hiking) di tempat ini tetapi itu juga sdh lama sekali, mungkin 4 thn yg lalu. Kebetulan dahulu sedang musim gugur, cahaya matahari bersinar agak keemasan. Nah...sinar ini membuat daerah Moor menjadi sangat menarik. Apalagi banyak lahan tanah disekitarnya yg tergenang air ( namanya juga daerah rawa) dan rumput² liar yg menjulang tinggi menambah pesona daerah ini, lalu entah kenapa saya jadi teringat film "The Killing Fields".



Kali ini kita datang ke tempat tersebut dimusim dingin, saya ingin tahu apakah tempat ini masih mempunyai pesona. Setelah memarkir mobil kita berjalan perlahan menuju daerah Moor, melalui beberapa rumah pertanian. Angin dingin kembali bertiup tanpa berhenti, terasa kurang menyenangkan karena menggangu mata. Saya berusaha mencari perlindungan dgn berjalan dibelakang uwe, tetapi tetap saja tdk berhasil. Mata saya mulai berair krn hembusan si angin dingin, air dari hidungpun mulai meleleh. Rasanya saat itu saya ingin berlari kearah mobil tetapi jarak yg kita tempuh sdh cukup jauh, masa hrs menyerah siyyy....




Perjalanan memang silih berganti, kadang kita terlindungi oleh pohon², tetapi terkadang kita hrs melalui ladang serta rawa yg tdk ditumbuhi pepohonan. Tanpa terasa mataharipun mulai lelah, suhu menjadi semakin dingin. Jari jemari saya pun mulai membeku walaupun berselimut sarung dan dilingungi kantung mantel winter. Kalau jari² kaki jangan ditanya deh, walopun pakai kaus kaki tebal dan sepatu winter, tetap saja setengah beku. Saya sdh tdk kuat utk membuat foto² lagi dan berjalan secepatnya menuju mobil. Lumayan....hari itu kita berjalan sejauh hampir 5 km dan juga mendapatkan beberapa foto yg cukup menarik.



Foto ini saya ambil dari dalam mobil. Gambar lenggokan api terlihat kurang jelas krn angin yg bertiup. Sayang saya lupa memakai blitz (walaupun sebenarnya saya kurang suka dgn sinar blitz).

Dlm perjalanan pulang menuju kerumah kita melihat banyak nyala api unggun ( Osterfeuer) dimana-mana. Tadinya uwe mengajak saya utk melihat atraksi api unggun, kembang api serta sinar laser yg diadakan oleh museum "Varusschlacht" di Kalkriese. Saya tdk tertarik krn hawa yg semakin dingin ( -1°c) apalagi kaki dan jari tangan masih membeku. Dari jalan raya kita bisa melihat ada banyak lampu yg diatur sedemikian rupa mengelilingi lahan museum ini. Banyak mobil² yg jumlahnya sdh tdk terhitung lagi parkir di sepanjang jalan dan semak² sekitarnya. Sebagai informasi bhw ditempat inilah dahulu terjadi peperangan besar antara bangsa Romawi dgn penduduk asli German. Seperti diketahui bhw dahulu bangsa Romawi mempunyai daerah jajahan yg sangat luas mulai dari Syria, Perancis hingga German. Saat peperangan terjadi bangsa Romawi dibawah pimpinan Varus sedangkan bangsa German dibawah pimpinan Armenius. Walaupun jumlah prajurit Romawi sangat banyak dan berpakaian lengkap, tetapi bangsa German bisa mengalahkan mereka. Krn kekalahan dari tempat inilah awal mundurnya penjajahan bangsa Romawi dari bumi German. Btw, nama "German" itu yg memberikan adalah bangsa Romawi. "Ger" artinya lembing (bhs jerman sekarang adalah speer), "Man" artinya manusia, jadi arti keseluruhannya adalah manusia berlembing .







Keine Kommentare: